December 06, 2005

Adabu zaujiyyah

ADAB BERPASANG-PASANGAN (Adabu zaujiyyah)

Materi ini akan membahas tentang apa saja adab berpasang-pasangan dalam Islam. Kita akan awali dari Tujuan pernikahan dalam Islam (Ahdafuzzawaji fil Islam). Tujuan bisa dianalogikan sebagai sebuah landasan/ fondasi berfikir seseorang, bisa sebagai cambuk/ motivasi. Tujuan itu dijabarkan dalam 4 hal:

1. Merealisasikan arti khilafah
2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

2. Supaya tidak terjerumus dalam perbuatan haram
24:30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
23: 5
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

[994] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[995] Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya.


3. Membentuk anak dalam lingkungan yang islami dan bersih
Marhalah da’wah yang ada di manhaj ikhwan adalah membentuk pribadi islami, keluarga islami, masyarakat islami dan baru kemudian daulah. Jadi, keluarga memegang peran penting dalam step selanjutnya untuk keberlangsungan dakhwah.

4. Mencapai kebahagiaan bagi laki-laki dan perempuan
Bagaimanapun juga, fitrah seorang laki-laki adalah adanya ketertarikan pada wanita dan demikian juga sebaliknya. Dan ALLAH bilang itu semua adalah merupakan sunnatullah dan harus diakomodir. Itu makanya Rasul juga menegur salah seorang sahabatnya yang bikin statement untuk tidak menikah. Beliau merepson, ”Aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian, tapi aku juga menikah, aku puasa tapi juga berbuka. Aku solat, tapi aku juga tidur (istirahat)”...

Terkakhir, ada salah satu hadist Rasulullah SAW yang isinya kurang lebih seperti ini,
”Dunia ini adalah perhiasan. (hufff, hebat banget nih emang Rasul kita ini. Dunia ini ternyata bukan tujuan, tapi cuman perhiasan. Semacam tempat transit (klo orang jawa bilang hanya mampir ngombe (mampir minum)). Dan sebaik-baik perhiasan adalah.....Wanita sholehah”

Wallahu ’alam bis-shawab.

December 03, 2005

Guru...

Puisi ini menceritakan kegelisahan dan kegetiran kalangan guru di Indonesia. Menyesakkan melihat kondisi ini, bagaimana mau menjadi pendidikan yang berkualitas, kalau guru-gurunya di malam hari harus "ngojek" dan "menjahit"?...

"KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM"
oleh Prof. Winarno Surahman.

"Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.

Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"

"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"

"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"

"Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"